Curug Halimun, Curug Terbesar di Pulau Jawa nan Mempesona
![]() |
| Google.com |
Curug Halimun memanglah bukan air terjun yang tertinggi, tapi merupakan air terjun terbesar di
seluruh Jawa. Inilah yang menjadi daya tarik banyak orang untuk mengunjunginya,
padahal jalan masuk ke sini sangat sulit pada awal abad ke-20. Kedua penulis
itu memasukkan Curug Halimun di aliran Ci Tarum, di selatan Rajamandala, ke
dalam buku panduan wisata Gids van Bandoeng en Midden-Priangan (1927).
SA Reitsma dan WH Hoogland dengan rinci menuliskan,
bagaimana cara untuk ke Curug Halimun, “Dengan kereta api yang pertama, yang
berangkat dari stasiun Bandung pukul 04.30 pagi. Perjalanan menuju Rajamandala
bisa ditempuh juga dengan mobil melalui Padalarang, dan akan sampai di
Rajamandala pukul 06.00. Yang berkendara dengan mobil atau sado di sepanjang
jalan raya pos, setelah melewati Ci Tarum berbelok tepat sebelum jembatan di
atas Ci Hea, di pal 26. Ikuti jalan setapak yang menuju ke Desa Pangkalan.
Setelah satu setengah jam mendaki secara perlahan, akan sampai di Gunung Guha.
Bila naik kereta api sampai di halte Cipeuyeum, lalu
berjalan menyusuri jalan raya pos ke arah Bandung sejauh 2 km. Di km 43
berbelok ke kanan menuju Desa Cipetirkolot di Cihea.
Karena tidak ada jalur khusus menuju air terjun, maka cara
terbaik adalah meminta penduduk di Desa Cacaban sebagai pemandu. Perjalanan
menurun menuju Ci Tarum melalui padang alang-alang. Suara gemuruh air terjun sudah
terdengar dari kejauhan”.
Jalan raya pos selesai dibangun tahun 1910, menghubungkan
kota-kota di sepanjang lintasan antara Bogor-Cianjur-Bandung-Sumedang-Cirebon-
.... Dari jalan raya pos itu ke pedalaman, seperti dari Cihea, Kabupaten
Cianjur, berada di sebelah barat Ci Tarum, ke selatan, belum dibangun jaringan
jalan. Oleh karena itu wisatawan pada zaman kolonial, mereka haru berjalan kaki
dari dari perpotongan jalan raya pos dengan aliran Ci Hea. Dari sana berjalan
ke selatan sejauh (jarak lurus) 11,5 km, lalu menuruni lereng yang menurun
tajam.
Sejak jalan aspal antara Rajamandala sampai bendungan
Saguling beroperasi pada tahun 1986, untuk menuju Curug Halimun menjadi sangat
sangat singkat. Antara Rajamandala sampai Cikuda, Saguling sejauh 13 km dapat
mengunakan kendaraan. Dari Cikuda sampai Curug Halimun bisa berjalan kaki, atau
dengan naik motor/ojeg sampai Cibodor, baru berjalan kaki. Jarak lurus antara
Cikuda – Curug Halimun sekitar 1,5 km, tapi harus menurun dari ketinggian + 710
m dpl di Cikuda ke + 480 m dpl di Curug Halimun.
Apa yang disaksikan wisatawan pada zaman kolonial, seperti
digambarkan oleh SA Reitsma dan WH Hoogland, jauh berbeda dengan apa yang
disaksikan saat ini. Ada dua penyebab utama yang membedakannya, pertama karena
Ci Tarum dibendung menjadi Danau Saguling, sehingga Ci Tarum antara bendungan
Saguling sampai powerhaouse Saguling, lebih ke hulu sedikit dari
Sanghyangtikoro, menjadi sungai yang tidak dilalui aliran Ci Tarum utama,
tetapi airnya hanya diisi oleh anak-anak sungai di sepanjang 8 km, sehingga
jumlah airnya menjadi sangat sedikit, ngérélék, kecil sekali. Kedua karena
lingkungan kawasan itu kualitasnya terus merosot, jauh dari gambaran Junghuhn
yang menyebutkan bahwa kawasan ini sebagai rimba hutanhujan tropis. Namun,
bagian yang dalam di bawah air terjun, membentuk “kolam” kehijauan yang tenang,
jernih, dan indah.
Gambaran betapa besar dan indahnya Curug Halimun, kini hanya
dapat dilihat dari jejaknya, seperti yang saya lihat pada September 2020. Di
dinding batu raksasa pada ketinggian dua meter lebih dari dasar sungai,
terdapat ceruk memanjang berdiameter 80 cm. Pastilah saat itu aliran air yang
sangat deras membawa material yang mampu mengebor batu menjadi lobang yang
memanjang. Lama ke lamaan lubangnya semakin membesar, lalu bagian sisi
terluarnya ambruk, membentuk ceruk yang memanjang. Dapat dipastikan, tinggi
muka airnya lebih tinggi dari ketinggian ceruk. Diguga, tinggi muka airnya tiga
meter lebih dari dasar sungai saat ini. Menurut Ryan Muhammad Agung, ketua
Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Curug Halimun, Desa Saguling, Kecamatan
Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, lebar Ci Tarum di dasar sungai,
ujung tebing bagian atas airterjun adalah 75 m, dengan tinggi tebing 45 m.
Pada saat SA Reitsma dan WH Hoogland membuat buku panduan
wisata tahun 1927, saya menduga tinggi airnya mencapai 3-4 m dari dasar sungai
bagian atas, dengan lebar sungai 75 m, lalu jatuh menjadi air terjun setinggi
45 m. Bisa dibayangkan bagaimana bergemuruhnya suara air terjun itu. Pada saat
air jatuh, butiran-butiran airnya ada yang melayang-layang ditiup angin,
membentuk halimun, kabut yang tebal. Sangat beralasan, mengapa pada masa lalu,
karuhun, leluhur kita menamai air terjun ini Curug Halimun.
Di kedalaman 230 m, seperti yang tersingkap di sempadan Ci
Tarum, di jalan setapak menuju Curug Halimun, bila menggunakan panduan Peta
Geologi Lembar Cianjur yang dipetakan oleh Sudjatmiko (cetakan tahun 2003),
perjalan ke Curug Halimun itu menembus lorong waktu antara 30 juta hingga 1,6
juta tahun yang lalu, sejak Cekungan Bandung masih tergenang laut dangkal
dengan bunga karangnya yang mempesona, hingga masa letusan-letusan gunungapi
bawah laut empat-tiga juta tahun yang lalu. Bukti-buktinya dapat disaksikan
pada saat menuruni lereng yang curam, di sana terdapat bongkah-bongkah
batukapur yang diselimuti breksi, material kasar dan bersudut dari letusan
gunungapi.
Kawasan Curug Halimun di aliran Ci Tarum, dapat dijadikan
laboratorium ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh para pelajar dan
mahasiswa, serta para peminat ilmu-ilmu kebumian, melalui kegiatan wisata bumi
atau geowisata.
Sumber: ayobandung.com


Komentar
Posting Komentar